× Redaksi Tenrang Kami Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda Aceh, Peristiwa, Pemerintahan, ekbis Amburadulnya Pasar Lamno Setelah Syakawi Pergi

Amburadulnya Pasar Lamno Setelah Syakawi Pergi

SHARE
Amburadulnya Pasar Lamno Setelah Syakawi Pergi

Tumpukan sampah di salah satu Gang di Pusat Pasar Lamno Kecamatan Jaya, Aceh Jaya dibiarkan berhamburan dan tidak kunjung dibersihkan. Foto: dokred.

Atjehlife.net - Pasar Lamno adalah salah satu pusat Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Aceh Jaya. Pasar ini sudah ratusan tahun menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam soal jual beli atau pusat pembelanjaan bagi masyarakat, Kecmatan Jaya, Kecamatan Indra Jaya, Kecamatan Sampoi Niet bahkan Masyarakat Kecamatan Lhoong Aceh Besar sekalipun.

Di pasar yang digelar hari pekannya pada setiap hari Minggu ini banyak pedagang lokal dan luar daerah yang mengaid rezeki setiap hari Ahad tiba. Bermacam bahan dagangan dijajakan di pasar tersebut, mulai dari makanan siap saji, makanan mentah, buah-buahan bahkan fashion pun menjadi bahan yang diperdagangkan oleh pedagang pada setiap hari pekan tiba.

Selain hari pekan, dulu Pasar Lamno hanya diramaikan oleh masyarakat lokal atau warga setempat mulai Senin-hingga Sabtu, Namun seiring dengan perkembangan zaman, jalur transportasi sudah lancar serta Kecamatan yang dikenal dengan sebagian penduduknya berketurunan protugis itu, juga terdapat panorama wisata alam, laut, dan wisata religi bahkan kuliner.

Tapi, sayang aktivitas masyarakat yang mulai hidup secara rutin pasca Gempa dan Tsunami melanda Aceh 2004 silam, bukan malah membuat kota Kecamatan pertama di Aceh Jaya (Aceh Barat sebelumnya) bertambah indah dan tertata dengan baik, melainkan kian hari terus amburadul.

Secara fasilitas infrastruktur ada peningkatan dari kondisi pasar Trandisonal 20 tahun silam, seiring adanya pembangunan sejumlah gedung kedai permanen dan los lapak sayur-mayur permanen di alun-alun Pasar Lamno, tapi bila dilihat dari tatakelola dan penataan lingkungan pasar kian hari kian memprihatinkan.

Mengapa tidak, bangunan yang telah dibangun oleh pemerintah untuk tempat masyarakat berdagang setiap hari dipenuhi oleh tumpukan sampah yang dibiarkan berhamburan di setiap gang antar bangunan yang ada. Kecuali sampah penataan perparkiran di sejumlah ruas jalan di lingkungan pasar turut memperburuk wajah pasar yang dikenal sebagai kecamatan pintu masuk ke Aceh Jaya ini.

Syamsuddin, salah seorang pedagang setempat yang dikonfirmasi media ini di Pasar Lamno, Jumat pagi, 18 Juli 2020, mengaku bahwa kondisi amburadulnya pasar tersebut sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir dan bagai tidak mendapat perhatian serius dari pihak terkait.

"Ya begini lah kondisinya, kadang kadang diambil sampahnya, ya tidak menentu waktunya," kata Syamsuddin.

Menurut Syamsuddin, tidak cuma kondisi pasar yang terabaikan, tapi sejumlah fasilitas yang disiapkan untuk warga di pasar berkaitan dengan upaya pencegahan Covid 19 juga tidak disiapkan sebagaimana mestinya, bahkan peralatan mencuci tangan sebagaimana yang dianjurkan oleh protokol kesehatan, usai dipasang tak pernah difungsikan dan tidak pernah diisikan air bersih ke dalam tank yang telah disediakan.

"Itu jaringan air pencuci tangan sejak dari dipasangkan beberapa bulan lalu hingga saat ini tidak pernah dapat kami pakai, karena tidak pernah diisikan air," timpal Syamsuddin lagi sembari diiyakan oleh puluhan pedagang lainnya yang ada di los sayur-mayur tersebut saat itu.

Pedagang dan masyarakat setempat berharap agar pihak terkait dapat memberikan perhatiannya terkait soal penataan kebersiahan dan ketertiban kota di Pasar tersebut, sehingga pasar dapat lebih tertib dan bersih.

"Seharusnya pemerintah tidak melepas tangan begitu saja terkait kondisi pasar ini dan dapat memberikan perhatian serius, sebab bila kondisi ini terus diabaikan maka tidak tertutup kemungkinan Pasar Lamno ini akan menjadi pasar kumuh dan berefek buruk bagi kesehatan masyarakat dan warga pasar," demikian ungkap salah seorang pengunjung pasar Lamno saat itu.

Sekilas cerita masyarakat setempat, bahwa kondisi pasar Lamno ini bukanlah budaya turun-temurun kondisi jorok dan amburadul sedemikian rupa, tapi jauh sebelum memasuki tahun 2000 lalu kondisi pasar lamno ini indah dan bersih. Demikian halnya dengan penataan kendaraan masyarakat yang saat itu tidak sebanyak kendaraan masyarakat sekarang ini.

"Dulu kondisi Pasar Lamno bersih dan rapi, tapi akhir-akhir ini kondisi pasar ini seperti tidak ada yang peduli lagi," kisah salah seorang pria yang mengaku dirinya salah seorang warga di salah satu Kampung bertetangga dengan Pasar Lamno itu.

Lanjut dia, dulu ada seorang pria renta yang senantiasa mengutip sampah di lingkungan pasar ini, Beliau akrab dipanggil dengan nama Syakawi. Syakawi adalah pria yang akrab membersihkan pasar itu setiap hari.

"Memang beliau agak sedikit mengalami kejiwaan, namun kerja mulia beliau sungguh luar biasa dalam menjaga kebersihan Kota Lamno ini, meski beliau tidak digaji oleh siapapun," ujar pria yang enggan namanya dipublis di media ini.

Pria hitam manis ini, mengaku tidak tahu secara persis sejak kapan mulanya Yahwa Syakawi melakoni sebagai petugas kebersihan Pasar Lamno itu, namun diakuinya Yah Wa Syakawi itu sempat cukup lama menggeluti pekerjaan tersebut. Tapi selepas Yah Wa Syakawi meninggal dunia lanjutnya, belum ada pengganti petugas kebersihan yang peduli terhadap Pasar Lamno ini, sehingga kian hari kondisinya terus amburadul dengan sampah bertumpukan dimana mana.

"Saya harap pemerintah segera mengambil kebijakan soal kebersihan pasar dan ketertiban pasar ini, demi terus menjaga kesehatan masyarakat dan memajukan Pasar Rakyat ini," demikian pungkas Pria ini sembari pamit untuk kembali usai berbelanja di los Sayur Mayur di Pasar Lamno tersebut saat itu.

Berdasarkan data yang dihimpun media ini dari sejumlah sumber, kondisi Pasar Lamno dengan keadaan jorok dan tak tertata itu sebelumnya juga sudah pernah disorot oleh sejumlah media masa, namun tidak begitu lama kondisiny terus terulang kembali. Apa alasannya hingga kondisi kebersihan dan ketertiban pasar Lamno itu terabaikan, hingga berita ini dipublis, wartawan media ini belum mendapat konfirmasi dari pihak terkait. (01)